Latest Posts
Sunday, May 1, 2016
Berita
cemara23
8:12 AM
Liputan6.com, Jakarta - Pemerintahan Presiden Jokowi-JK langsung
membuat gebrakan di dunia pendidikan begitu berkuasa. Salah satunya
terkait kebijakan Ujian Nasional (UN) yang kerap menjadi momok
menakutkan para siswa dan civitas akademika.
Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dengan tidak menjadikan UN sebagai syarat kelulusan siswa. Hal itu untuk memupuk integritas siswa sejak dini, sesuai visi pemerintahan Jokowi-JK, revolusi mental.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menegaskan akan tetap mempertahankan kebijakan tersebut pada 2016. Dia berharap, meningkatnya integritas siswa dapat memerangi korupsi yang sudah mendarah daging di Indonesia.
"Hari ini kita lihat, KPK, Kejaksaan direpotkan dengan banyaknya kasus korupsi. Dan korupsi ini mulainya dari anak-anak kita yang dibiarkan melakukan kecurangan di sekolah," ucap Anies di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Rabu (30/12/2015).
Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dengan tidak menjadikan UN sebagai syarat kelulusan siswa. Hal itu untuk memupuk integritas siswa sejak dini, sesuai visi pemerintahan Jokowi-JK, revolusi mental.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menegaskan akan tetap mempertahankan kebijakan tersebut pada 2016. Dia berharap, meningkatnya integritas siswa dapat memerangi korupsi yang sudah mendarah daging di Indonesia.
"Hari ini kita lihat, KPK, Kejaksaan direpotkan dengan banyaknya kasus korupsi. Dan korupsi ini mulainya dari anak-anak kita yang dibiarkan melakukan kecurangan di sekolah," ucap Anies di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Rabu (30/12/2015).
Berita
cemara23
8:11 AM
Memiliki tubuh tak sempurna, tidak membuat Jumroni bermurung diri dan
berputus asa. Siswa kelas 4 SD ini tetap semangat dan ceria meski harus
merangkak menuju ke sekolah dan menjalankan aktivitas kesehariannya.
Jumroni adalah siswa kelas 4 di SD Negeri Padek 2, Karang Antu, Kota Serang, Banten. Penyakit lumpuh layu yang ia derita sejak 4 tahun lalu membuat kakinya mengecil dan tak mampu menahan berat tubuhnya seperti siswa lain.
Meski tidak normal, siswa berumur 11 tahun itu tak pernah minder terhadap teman-teman sekolahnya. Ia tetap semangat mengikuti pelajaran.
Untuk tiba di sekolah, Jumroni diantar sang ibu bernama Juminah dengan membonceng di sepeda. Juminah selalu mengantar putra tercintanya itu untuk menimba ilmu.
Juminah menuturkan, putranya mengalami kondisi itu lantaran dirinya tak mampu membawa Jumroni ke rumah sakit saat dia menderita penyakit lumpuh layu. Sang ayah, Sarikam, hanya bekerja sebagai buruh serabutan yang tak memiliki penghasilan tetap, sedangkan sang ibu bekerja sebagai buruh cuci di sekitar rumahnya.
"Jadi, Jumroni hanya diberikan obat ala kadarnya, seperti obat warung," ungkap Juminah.
Sang ibu berharap agar putranya itu bisa mendapatkan bantuan kursi roda dari para dermawan maupun pemerintah Kota Serang.
"Pernah ada yang ngasih kursi roda, tapi sekarang udah rusak. Harapannya dikasih kursi roda lagi biar nggak ngerangkak," tutur Juminah di kediamannya di Desa Karangantu, Kota Serang, Minggu (12/1/2014).
Sementara di sekolah, Jumroni dikenal sebagai siswa yang pandai. Semangat juangnya belajar, mendapat apresiasi dari sejumlah guru.
"Di sekolah, Jumroni dikenal sama temen-temennya sebagai siswa yang pandai. Makanya, saya sebagai guru atau temen-temennya, nggak pernah keberatan bantu Jumroni," ujar salah satu guru, Maryamah, di kediaman Jumroni.
Baik Juminah ataupun Maryamah mengatakan Jumroni tak pernah putus semangat bersekolah meski keterbatasan yang dimilikinya.
Jumroni memiliki cita-cita sederhana tapi mendalam. Apa itu? "Ingin menjadi seorang pedagang", kata Jumroni dengan malu-malu.
Lebih lanjut Jumroni menjelaskan, cita-citanya ingin menjadi pedagang agar ia bisa mempekerjakan orang lain yang tak seberuntung dia. Sehingga dapat mengangkat taraf ekonomi orang lain.
Hingga kini, keluarga masih berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk kesembuhan Jumroni, sehingga sang anak mampu beraktivitas seperti orang normal lainnya. (Ali)
Jumroni adalah siswa kelas 4 di SD Negeri Padek 2, Karang Antu, Kota Serang, Banten. Penyakit lumpuh layu yang ia derita sejak 4 tahun lalu membuat kakinya mengecil dan tak mampu menahan berat tubuhnya seperti siswa lain.
Meski tidak normal, siswa berumur 11 tahun itu tak pernah minder terhadap teman-teman sekolahnya. Ia tetap semangat mengikuti pelajaran.
Untuk tiba di sekolah, Jumroni diantar sang ibu bernama Juminah dengan membonceng di sepeda. Juminah selalu mengantar putra tercintanya itu untuk menimba ilmu.
Juminah menuturkan, putranya mengalami kondisi itu lantaran dirinya tak mampu membawa Jumroni ke rumah sakit saat dia menderita penyakit lumpuh layu. Sang ayah, Sarikam, hanya bekerja sebagai buruh serabutan yang tak memiliki penghasilan tetap, sedangkan sang ibu bekerja sebagai buruh cuci di sekitar rumahnya.
"Jadi, Jumroni hanya diberikan obat ala kadarnya, seperti obat warung," ungkap Juminah.
Sang ibu berharap agar putranya itu bisa mendapatkan bantuan kursi roda dari para dermawan maupun pemerintah Kota Serang.
"Pernah ada yang ngasih kursi roda, tapi sekarang udah rusak. Harapannya dikasih kursi roda lagi biar nggak ngerangkak," tutur Juminah di kediamannya di Desa Karangantu, Kota Serang, Minggu (12/1/2014).
Sementara di sekolah, Jumroni dikenal sebagai siswa yang pandai. Semangat juangnya belajar, mendapat apresiasi dari sejumlah guru.
"Di sekolah, Jumroni dikenal sama temen-temennya sebagai siswa yang pandai. Makanya, saya sebagai guru atau temen-temennya, nggak pernah keberatan bantu Jumroni," ujar salah satu guru, Maryamah, di kediaman Jumroni.
Baik Juminah ataupun Maryamah mengatakan Jumroni tak pernah putus semangat bersekolah meski keterbatasan yang dimilikinya.
Jumroni memiliki cita-cita sederhana tapi mendalam. Apa itu? "Ingin menjadi seorang pedagang", kata Jumroni dengan malu-malu.
Lebih lanjut Jumroni menjelaskan, cita-citanya ingin menjadi pedagang agar ia bisa mempekerjakan orang lain yang tak seberuntung dia. Sehingga dapat mengangkat taraf ekonomi orang lain.
Hingga kini, keluarga masih berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk kesembuhan Jumroni, sehingga sang anak mampu beraktivitas seperti orang normal lainnya. (Ali)
Berita
cemara23
8:09 AM
JAKARTA - Keberadaan sekolah atau ruang kelas rusak tersebar merata di penjuru Indonesia. Jumlahnya pun cukup besar.
"Saat ini, ada sekira 100 ribu ruang belajar baik tingkat SD, SMP dan SMA/SMK rusak. Kita tidak mungkin mengharapkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK), untuk itu perlu pelibatan publik," ujar Dirjen Pendidikan Dasar Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hamid Muhammad di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu (24/2/2016).
Menurut Hamid tidak mungkin bisa mengurus pendidikan jika tidak melibatkan masyarakat. Untuk itu pihaknya membuka ruang selebar-lebarnya untuk partisipasi publik.
"Kami membuka ruang bagi publik untuk membantu persoalan yang terjadi di sekolah. Bukan merecoki, kami merasa senang jika publik turut membantu dalam penyelenggaraan pendidikan di Tanah Air," terang dia.
Saat ini, Kemdikbud merumuskan metode pelibatan publik yang lebih intensif dalam penanganan pendidikan yang selama ini dalam lingkup pemerintahan. Pelibatan publik dinilai sangat penting agar nuansa perubahan yang diharapkan bukan hanya kajian simbolik atau konseptual semata.
Cakupan publik dalam upaya perlibatan tersebut bukan hanya bermakna hanya diwakili oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi tertentu. Selain itu, dia menambahkan pihaknya juga akan menata ulang penerimaan siswa baru, terutama di kota besar.
"Kami akui memang ada fenomena menambah ruang belajar di kota besar. Walaupun sudah ada penerimaan 'online' (daring), mereka menyisakan beberapa kelas yang tidak transparan. Makanya kami akan atur ulang penerimaan siswa baru agar fenomena itu tidak terjadi lagi," cetus Hamid.
(rfa)
"Saat ini, ada sekira 100 ribu ruang belajar baik tingkat SD, SMP dan SMA/SMK rusak. Kita tidak mungkin mengharapkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK), untuk itu perlu pelibatan publik," ujar Dirjen Pendidikan Dasar Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hamid Muhammad di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu (24/2/2016).
Menurut Hamid tidak mungkin bisa mengurus pendidikan jika tidak melibatkan masyarakat. Untuk itu pihaknya membuka ruang selebar-lebarnya untuk partisipasi publik.
"Kami membuka ruang bagi publik untuk membantu persoalan yang terjadi di sekolah. Bukan merecoki, kami merasa senang jika publik turut membantu dalam penyelenggaraan pendidikan di Tanah Air," terang dia.
Saat ini, Kemdikbud merumuskan metode pelibatan publik yang lebih intensif dalam penanganan pendidikan yang selama ini dalam lingkup pemerintahan. Pelibatan publik dinilai sangat penting agar nuansa perubahan yang diharapkan bukan hanya kajian simbolik atau konseptual semata.
Cakupan publik dalam upaya perlibatan tersebut bukan hanya bermakna hanya diwakili oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi tertentu. Selain itu, dia menambahkan pihaknya juga akan menata ulang penerimaan siswa baru, terutama di kota besar.
"Kami akui memang ada fenomena menambah ruang belajar di kota besar. Walaupun sudah ada penerimaan 'online' (daring), mereka menyisakan beberapa kelas yang tidak transparan. Makanya kami akan atur ulang penerimaan siswa baru agar fenomena itu tidak terjadi lagi," cetus Hamid.
(rfa)
Subscribe to:
Posts (Atom)







